SELAMAT DATANG DI WWW.JHELLIESITE.BLOGSPOT.COM---------SELAMAT DATANG DI WWW.JHELLIESITE.BLOGSPOT.COM---------SELAMAT DATANG DI WWW.JHELLIESITE.BLOGSPOT.COM---------SELAMAT DATANG DI WWW.JHELLIESITE.BLOGSPOT.COM---------SELAMAT DATANG DI WWW.JHELLIESITE.BLOGSPOT.COM---------SELAMAT DATANG DI WWW.JHELLIESITE.BLOGSPOT.COM---------SELAMAT DATANG DI WWW.JHELLIESITE.BLOGSPOT.COM---------SELAMAT DATANG DI WWW.JHELLIESITE.BLOGSPOT.COM---------SELAMAT DATANG DI WWW.JHELLIESITE.BLOGSPOT.COM---------SELAMAT DATANG DI WWW.JHELLIESITE.BLOGSPOT.COM---------SELAMAT DATANG DI WWW.JHELLIESITE.BLOGSPOT.COM---------SELAMAT DATANG DI WWW.JHELLIESITE.BLOGSPOT.COM---------SELAMAT DATANG DI WWW.JHELLIESITE.BLOGSPOT.COM---------SELAMAT DATANG DI WWW.JHELLIESITE.BLOGSPOT.COM---------SELAMAT DATANG DI WWW.JHELLIESITE.BLOGSPOT.COM--------- [Belajar MENULIS itu bagaikan belajar naik sepeda, jatuh sekali maka harus berani bangun lagi, jatuh lagi maka bangun lagi begitu seterusnya. Maka gak ada ceritanya seseorang naik sepeda sekali naik langsung bisa bukan? Ku petik dari ceramahnya Farid Tolomundu / [Belajar MENULIS itu bagaikan belajar naik sepeda, jatuh sekali maka harus berani bangun lagi, jatuh lagi maka bangun lagi begitu seterusnya. Maka gak ada ceritanya seseorang naik sepeda sekali naik langsung bisa bukan? Ku petik dari ceramahnya Farid Tolomundu / [Belajar MENULIS itu bagaikan belajar naik sepeda, jatuh sekali maka harus berani bangun lagi, jatuh lagi maka bangun lagi begitu seterusnya. Maka gak ada ceritanya seseorang naik sepeda sekali naik langsung bisa bukan? Ku petik dari ceramahnya Farid Tolomundu/[Belajar MENULIS itu bagaikan belajar naik sepeda, jatuh sekali maka harus berani bangun lagi, jatuh lagi maka bangun lagi begitu seterusnya. Maka gak ada ceritanya seseorang naik sepeda sekali naik langsung bisa bukan? Ku petik dari ceramahnya Farid Tolomundu / [Belajar MENULIS itu bagaikan belajar naik sepeda, jatuh sekali maka harus berani bangun lagi, jatuh lagi maka bangun lagi begitu seterusnya. Maka gak ada ceritanya seseorang naik sepeda sekali naik langsung bisa bukan? Ku petik dari ceramahnya Farid Tolomundu / [Belajar MENULIS itu bagaikan belajar naik sepeda, jatuh sekali maka harus berani bangun lagi, jatuh lagi maka bangun lagi begitu seterusnya. Maka gak ada ceritanya seseorang naik sepeda sekali naik langsung bisa bukan? Ku petik dari ceramahnya Farid Tolomundu
AWAL OPINI RESENSI CERPEN DIARY MAKNA TAMPLATE
03 Mei 2009

Rajin Tanya Mbah Google


eL-Bloggers, akhir-akhir ini banyak sekali kawan-kawan aku yang kepengen bikin blog tapi gak tau caranya. Pertanyaan yang sama mereka luncurkan kepada saya, bagaimana bikin blog? kalo register gimana? Kalo taruh teks berjalan gimana? Kalo bikin gambar bergerak gimana dan seterusnya. Pertanyaan-pertanayaan serupa itu membuat kupingku kritingInnocent, karena harus mendengar dari banyak teman. Akhirnya jawabanku cuman satu, “tanya aja sama mbah google!”Smile

Kok? Ya, kalo difikir-fikir, mbah google-lah yang paling cerdas soal blog. Bahkan gak hanya soal blog, soal apa saja yang kita tanyakan pada mbah satu ini pasti akan dijawabnya dengan komprehensif. Hidup mbah Google! Apalagi soal blog, wuiiiiiiih, gak usah ditanya dech. Mbah blog akan mengajarimu sampai tuntas bahkan sampe jadi webmaster handal. Anda mau sebutkan siapa yang paling handal sebagai blogger, pasti gurunya mbah google.

Nah, ini pengalamanku :Cool

Aku menjadi blogger sekitar dua tahun lalu. Awalnya sih aku belajar sama temenku di Bandung namanya Buletz AlgifariEmbarassed. Pertanyaannya saya saat itu serupa dengan pertanyaan teman saya diatas tadi. (hehe buletz juga waktu itu kupingnya kriting kali ya). Oleh buletzLaughing aku dikenalkan dengan wordpress pertama kali. Aku belajar bikin dua blog sekaligus www.opinikampus.wordpress.com dan www.jarikmataram.wordpress.com yang masih In sampe sekarang. Waktu itu, aku liat blog Gifari menggunakan blogspot. http://boelldzh.blogspot.com , akhirnya penasaran juga ke blogspot. Diskusi dengan gifari akhirnya menghasilkan blog www.jhelliesite.blogspot.com masi pake Html ajah.

Beberapa minggu kemudian, aku ngeliat gifari mulai sibuk, dan aku menjadi enggan bertanya lagi. Dan akhirnya aku coba browsing di google. Weleeeh ....Tongue outternyata banyak sekali tutorial tentang blog. Mulai dari bikin , sampai design. Aku bersemangat!. Aku belajar dan browsing sebanyak-banyaknya. Bahkan gak sekadar browsing, aku copy di flash disk dan aku baca dirumah.

Akhirnya, aku bisa dech bikin blog ....

Terima kasih gifari, terima kasih google!


Label: , ,


Baca Lengkapnya!
 
posted by Jhellie Ahmad at Minggu, Mei 03, 2009 | 1 comments
25 Maret 2009

My Brother Letter be 4 Leave me

Surat Untuk Kedua Orang Tuaku

Banyak sekali pengorbanan yang telah engkau berika kepadaku karena saying dan cintanya kalian kepadaku. Tapi maafkan anakmu yang malang ini, tidak mampu membalas jerih payah yang telah engkau perjuangkan untukku. Engkau menggendongku disaat aku masih kecil, engkau rela bangun ditengah malam karena engkau mendengar tangisanku, engkau menggendongku kemana saja engkau pergi, aku yakin engkau capek dan lelah, senadainya yang engkau gendong anaknya orang pasti engkau akan membiarkannya menanggis tapi engkau menggendong anakmu sendiri yaitu aku. Capek dan lelah itu hilang seketika dikalau aku senyum padamu karena engkau saying banget ama aku.


Tapi semua itu tidak mampu aku balas. Maafkan aku yang tidak bias membals segala jasa mu. Bukannya aku tidak mau, tapi kondisi inilah yang mengharuskan saya utnuk berpisah dengannmu untuk selamanya. Sehingga aku tidak mampu memberikan segalanya yang telah engkau perjuangkan untukku.
Seandainya aku mampu bertahan hidup, pasti aku akan memberimu segalanya yang bisa aku lakukan. Aku akan melarangmu bekerja karena aku telah sukses, aku akan menghiasi kamar-kamarmu dengan mas dan berlilan. Tapi hayalan itu tidak mampu aku lakukan karena aku harus menyudahi sandiwaraku di dunia ini. Kita tidak tahu memang siapa yang akan duluan tapi ternyata dengan keterpaksaan saya harus meninggalkan kalian dalam keadaan sedih dan menahan sakit karena dicabut nyawa oleh malaikat.

Tapi engkau jangan pesimis melihatku begini karena ini sudah suatan takdir. Kita hidup bagaikan sandirwara dimana tuhanlah sebagai sutradaranya. Yang namanya sutra dara ya apa saja yang dia mau pasti dituruti oleh modelnya karena dialah yang mengarang alur cerita tersebut. Begitupun juga allah swt. Tabahkanlah hatimu walaupun aku meninggalkan kalian untuk selamanya. Dan semoga kita berjumpa di akhirat sana kumpul bersama. Dan kalian harus ingat bahwa setiap manusia akan mati.

Karena kita semua milik allah yang harus kembali kepadanya. Begitupun dengan dirku adalah titipan dari allah dan harus diambil saat ini. Engkau hanya sebagai perantara untuk memelihara diriku. Dan perlu kita ingat kita semua hanya keluarga di dunia sedangkan dunia hanya sementara adanya. Namun diakhirat sana kita akan sendiri-sendiri dan mempertanggungkan segala amal ibdah kita selama di dunia. Walaupun kalian semua masuk surga sedangkan aku sendirian yang masuk neraka engkau tidak akan mampu untuk mengangkatku dari neraka, karena kita sudah sendiri-sendiri. Dan menemtukan nasib sendiri-sendiri di akhirat, jadi tidak ada istilah keluarga. Dan kia semua tidak bisa saling memberi syafaat hanya rasulullah yang akan memberi syafaat kepada hambanya yang dia kehendaki.

Maafkan diriku wahai bapak dan ibu adik dan kakakku tercinta. Saya harus meninggalkan kalian untuk selama-lamanya dan tidak akan berjumpa lagi. Tapi kalau kalian cinta ama aku, jangan engkau tangisi atas kepergian ku tapi doakan aku disetiap nafasmu agar aku tidak disiksa di akhirat sana. Aku akan semakin bersedih jikalau engkau menangisi kepergianku tapi aku akan tersenyum kalau engkau mendoakan diriku agar selamat di akhirat sana.

Maafkan segala kesalahan yang telah aku lakukan kepadamu baik aku sengaja ataupun tidak aku sengaja. Tapi aku lakukan semua itu karena sayangku ama engkau dan tidak pernah terlintas dalam benakku untuk membenci dirimu.

Aku sangat membutuhkan doamu karena dengan doamu itu akan memperingan siksaanku di akhirat sana. Jangan lupa setiap selesai sholat fardu engkau doakan diriku agar mampu menjawab soal-soal dari malikat di kubur sana dan diringankan siksaanku.

Banyak sekali kakta-kata yang harus aku tumpahkan di depan kompuper ini., tapi itu semua tidak bisa aku ungkap dengan kata-kata. Karena engkau semua care banget ama aku.

Dan jangan lupa untuk bilang ama masyarakat, keluarga, teman-teman tiang, kerabat tiang dan semua orang yang pernah ada hubungan dengan tiang untuk dimaafkan atas segala kealahan yang telah ananda lakukan baik itu tiang sengaja ataupun tidak disengaja. Tapi seingatknya tiang, tidak pernah melakukan kesalahan yang disengaja, smua kesalahan itu atas kehilafan diriku yang lemah ini.


Mungkin itu saja dari ananda semoga kalian semua tenang dengan keprgian dirku yang malang ini.

Kutulis di piondok pesanatren kuyang te4rfacinta salafiyah syafi’iah sukorejo situbondo

Situbondo,10 Desember 2008
5:02:44

Label:


Baca Lengkapnya!
 
posted by Jhellie Ahmad at Rabu, Maret 25, 2009 | 0 comments
03 Maret 2009
“Potong Saja Kakiku dok, Asal Jangan Tanganku! Aku Mau Jadi Penulis”

Itulah sepotong kalimat yang diucapkan adikku saat mengetahui dirinya menderita kangker ganas. Penyakit mematikan itu mulai dirasakannya serius sejak empat bulan lalu ketika sebuah benjolan tumor sebesar telunjuk jari di betisnya mulai membesar. Sebulan sebelumnya, tumor sebesar jari telunjuk itu dioperasi di sebuah rumah sakit swasta. Hasilnya, tumor itu diketahui jenis tumor kulit yang terindikasi jinak.


Namun ayal, setelah sebulan berlalu, tumor kecil itu mulai tumbuh lagi. Kali ini kian besar, sebesar buah avokat. Semakin hari bahkan tumor itu sudah sebesar botol kecap ABC. Karena mengkhawatirkan, kami terpaksa membawanya ke rumah sakit lagi untuk operasi.
Operasi kali ini dinilai gagal, karena menurut dokter, dilihat dari perkembangannya, tumor ini ganas.
“Saya tidak yakin hasil operasi ini, banyak akarnya masih belum bisa diangkat” kata dokter yang aku lupa namanya.
Benar saja, pasca operasi kedua itu, penyakit mematikan itu kian hari kian tak terdeteksi. Lepas dua minggu pasca operasi, adikku mulai mengeluh nyeri pinggang. Kami mengiranya karena terlampau banyak tidur terlentang sehingga kami mendatangkan tukan urut dan dukun. Karena adikku manja, diantara kami ada juga yang mengiranya hanya aksi manja saja. Namun, keluhan nyeri pinggang itu tiba-tiba diikuti pendarahan bekas operasi itu. Lukanya tak kunjung sembuh hingga HB (sel darah merah)-nya menurun hingga 4.0. Kami membawanya ke sebuah rumah sakit di Mataram untuk segera ditransfusi. Dokter juga meminta adik kami di rongen untuk mengetahui penyebab nyeri pinggang itu. Sambil menunggu hasil rongen, adikku terus ditranfusi. Dan beberapa hari kemudian, setelah darah masuk ketubuhnya, ia mulai batuk-batuk dan berdahak darah. Semua kami terkejut. Lebih terkejut lagi setelah mengetahui hasil rongen, bahwa keluhan nyeri pinggang dan batuk berdahak darah itu di curigai akibat dari tumor di betisnya itu.
“Saya curiga ini tumor ganas, segera dirujuk ke Denpasar saja, kami tidak sanggup mengatasinya” Bisik dokter padaku.
Shock, semua keluarga kami shock. Ibu dan bapakku langsung menangis histerus. Aku tetap berupaya tenang. Namun kesedihan tetap tak mampu kusembunyikan. Aku menagis di belakang kamar rumah sakit itu. Surat rujukan telah diberikan, dan kami siap berangkat esok pagi. Kami berangkat menggunakan pesawat supaya cepat. Dan yang paling menyedihkan, sesampai di rumah sakit Sanglah Denpasar, hasil diagnosisnya adikku mengidap Kangker Soft Tisue Sarcoma. Sebuah jenis kangker yang cukup langka dan sulit dicarikan obatnya. Dr. Kusuma. Ya, itu nama dokter yang pertama kali menangani adikku di rumah sakit besar itu. Dr. Kusuma orangnya santun, sederhana, perhatian dan tidak cuek. Ia salah satu ahli onkologi rumah sakit ini. Beliau katakan, kangker adik saya telah menyebar ke tulang belakang dan paru. “Ada tiga tindakan yang akan coba kita lakukan, pertama USG, kedua Cemo theraphy dan ketiga operasi, dan karena penyakit adik anda berat, mohon bersabar ya” kata dokter muda itu. Beberapa tindakanpun mulai dilakukan Dr. Kusuma dan Tim medisnya. Pertama-tama adikku di masukkan di ruang radiologi dan menjalani USG hati dan otak. Hasilnya, alhamdullah, keduanya masih baik, belum terkena kangker. Katanya, dua organ ini paling vital dan harus yang pertama kali diselamatkan. Tindakan kedua, USG pinggang dan dada. Yang kedua ini membuat kami tersedak dan menangis. Tulang belakang adikku ternyata telah keropos dan terancam lumpuh, sementara sebelah parunya juga mengalami hal yang sama namun tidak separah tulang belakang. Kami harus menunggu dua minggu sebelum tindakan kedua dilakukan. Sementara tumor dikaki adikku terlihat semakin membesar serta pinggang dan dadanya dikeluhkannya lebih nyeri dari sebelumnya. Hingga minggu ketiga baru di adakan Cemo Therapy sesuai yang dijanjikan. Cemo therapy adalah sejenis obat kangker racikan yang ditemukan beberapa tahun lalu di Sanglah. Menurut Dr, Kusuma, theraphy ini terbukti telah menyembuhkan banyak pasien kangker di rumah sakit ini.
“Kita berdoa saja, semoga cemonya berhasil” katanya penuh harap.
Sementara menunggu reaksi obat cemo, kangker di kakinya terus membesar dan mengalami pendarahan. Kami di suruh tranfusi lagi hingga empat kantong. Alhmadulillah, setelah tranfusi, batuk berdahak darah dan sakit dadanya berkurang. Dr. Kusuma melakukan foto lagi untuk dadanya. Alhamdullah, telah membaik. Sementara nyeri dipinggangnya belum bisa diatasi, kami dimina membeli obat anti keropos tulang, namanya Bondronat. Harganya mahal banget 3.40.000. Obat ini langka banget, aku berkeliling hampir kesemua wilayah di denpasar. Baru menemukannya setelah sekitar dua minggu kami melakukan pencarian. Saya mendapatkan di apotik Adhi Guna yang letaknya persis di belakang mall Tiara Dewata. Beberapa hari kemudian, foto pinggang dilakukan. Hasilnya, beberapa bagian tulang telah keropos berat dan harus dioperasi. Jika tidak, adikku terancam tidak bisa jalan atau paling minim bongkok. Akhirnya kami menyetujui operasi. Sampai disini, luka di kaki bekas operasi itu tidak jua menunjukkan tanda-tanda akan sembuh. Bahkan terus mengalami pendarahan. “Kita atasi dada lebih dahulu, baru pinggang trus kaki” kata Dr. Kusuma. Pada kesempatan itu, Dr. Kusuma juga memberitahu kami, jika kangker ganas seperti ini sulit di obati. Jika mau sembuh total maka adiikku harus di amputasi. Kami sekeluarga langsung terperanjat. Dr. Kusuma memberikan penjelasan, ini karena banyak sel-sel yang tak terlihat saat operasi sehingga dikhawatirkan akan tetap tersisa dan menjadi kangker baru lagi. Adikku serta aku, ibu dan paman yang menunggunya pasrah sudah.
“Silakan aja dokter melakukan yang terbaik untuk adik saya” kataku.
“Potong Saja Kakiku dok, Asal Jangan Tanganku, Aku Mau Jadi Penulis !” Kata adikku sedih.
Namun dokter belum bisa menangani kaki adikku sebelum kondisi fisiknya terutama dada dan pinggangnya sembuh. Akhirnya tindakan selanjutnya, harus operasi tulang belakang dulu. Namun karena Dr. Kusuma ahli dibidang onkologi, ia tak mau menangani operasi ini. Diserahkannya ke dokter syaraf dan tulang, Dr. Yanti dan Dr.Iwan.
Dua dokter ini berbeda dengan Dr. Kusuma. Sebaliknya dari Dr. Kusuma, kedua orang ini lumayan jutek dan pemalas. Adikku jarang dikunjunginya langsung seperti yang sering dilakukan Dr. Kusuma. Mereka jarang sekali datang, bahkan mereka hanya cukup dengan mengutus asistennya. Namun, melalui dua dokter ini akkhirnya kami menyetujui tindakan operasi itu. Ia membutuhkan biaya yang tak sedikit. Kami mengeluarkan tak kurang dari dua juta rupiah untuk membeli alat yang akan dipasangkan dipunggungnya ketika operasi. Belum lagi untuk obat tak kurang dari satu setengah juta rupiah. Nah, pasca operasi punggung inilah, kondisi adikku mulai drop. Ia sangat lemah, tak bisa makan, nyerinya semakin parah dan mulai batuk darah lagi. Sementara kakinya masih terus mengalami pendarahan. Lebih sedih lagi, setelah diadakan foto pinggang pasca operasi, ternyata operasi yang pertama dinilai gagal. Pasalnya, objek tulang yang digunakan sebagai tempat untuk merekatkan alat tersebut ternyata ikut keropos. Dr. Yanti dan Dr. Iwan bilang, harus segera dioperasi ulang. Ditambah beban psikologis, dimana adikku merasa jarang diperahatikan dokternya. Kondisinya semakin hari-semakin memburuk. Tidak seperti Dr. Kusuma yang kerap menyapanya dan memberikan spirit untuk terus optimis sembuh, dua dokter ini terbilang sangat cuek. Kami akhirnya dibuatnya jengkel. Beberapa kali kami laporkan ke pihak kepegawaian rumah sakit supaya dua dokter ini diganti saja. Namun tak ada hasil. Operasi ulangpun dilakukan. Praksis, setelah operasi kedua ini adikku sudah tak bisa berbuat apa-apa. Ngomong aja susah. Entah apa yang ia rasakan, ia enggan diajak ngomong. Hanya merintih kesakitan dan membuat kami kebingungan. Semnetara itu, dua dokter sial itu semakin hari semakin menunjukkan sikap tidak mengenakkan. Habis dioperasi kami merasa ditinggalkan begitu saja. Disaat kondisi kian memburuk itulah, beberapa tumor tumbuh ditempat berbeda. Di mata sebelah kanan, kemudian di kandung kemih, bengkak sepeti bisul besar. Adikku sudah tidak bisa bergerak-gerak lagi. Untuk berbalik saja, kami harus bersusah payah membantunya. Organ kaki juga dirasakannya sudah tak berfungsi. Tangisan melanda kami. Kondisi adiikku semakin parah saja. Sementara pihak rumah sakit membuat kami menyesal. Para dokter hanya menyarankan kami beli obat-obat mahal yang tak jua menunjukkan hasil. Sementara kondisi adikku bukannya membaik tapi jauh lebih parah dari sebelumnya. Senin lalu, karena tak ada biaya, dengan terpaksa kami harus membawa adik kami pulang dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Dari mata sebelah kanan muncul tumor yang semakin hari semakin membesar, ia sudah tak bisa melihat. Sementara di kandung kemihnya juga demikian, bahakn lebih besar. Sementara tumor di betisnya juga hingga hari ini mengalami pendarahan terus menerus. Kami sekeluarga menangis.[] Paok Dandak, 2 Maret 2009
2:26

Label:


Baca Lengkapnya!
 
posted by Jhellie Ahmad at Selasa, Maret 03, 2009 | 0 comments
03 Februari 2009
Perjuangan Salahuddin

“Dikisahkan dengan baik. Disusun secara cemerlang. Penggambaran historisnya tentang sebuah hubungan takdir amat meyakinkan. Maka, buku ini adalah sebuah kisah untuk zaman kita, dibayang-bayangi oleh peristiwa-peristiwa masa lampau dan tokoh-tokoh yang ternyata lebih dekat dengan kenyataan kita daripada yang kita bayangkan.”
Edward Said

Blog, aku janji ama you bakal menyelesaikan buku ini secepatnya. Aku penasaran dengan akhir perjuangan Salahuddin, kecantikan Jamilah, pertualangan Abu Yakub serta nasib untuk Imadudin sang intelektual yang kadang-kadang cabul itu.

Label:


Baca Lengkapnya!
 
posted by Jhellie Ahmad at Selasa, Februari 03, 2009 | 0 comments
29 Januari 2009
My Sadness

Pagi yang penuh dengan keterkejutan, Dr. Santiyo membaca hasil Rongen, bahwa suaidi dicurigainya kangker ganas, dilihat dari cirri-ciri rongen dada dan pinggangnya. “Anak ini harus dibawa ke bali” kata Dr. Santyo. Aku dan inaq langsung menangis. Bapakku yang sudah sakit semakin sakit. Betul-2 dalam susana yang sangat menyedihkan. Aku baru alami sekali ini dalam hidupku.

Hmm…lama banget aku absen dari dunia blog ini. Praksis sejak terakhir posting pada 09 desember 2008 aku gak pernah menyentuhnya lagi. Akhir tahun 2008 dan awal tahun 2009 ini memang menjadi saat-saat tersulit bagiku. Beragam persoalan aku hadapi, mulai dari dikejar-kejar wisuda, jarik yang belum laporan, asma bapak kambuh sampai adikku “suaidi” [yang lagi asyik-asyiknya kuliah di Situbondo] juga tiba-tiba sakit keras, “kangker”.

Akhir tahun dan awal tahun yang aku beri judul “The Sadness Year”. Tahun yang betul-betul sarat “kesedihan” mendalam. Dan cerita hari ini adalah juga cerita kesedihan. Cerita tentan adiikku yang di vonis kangker ganas oleh dokter.

Berawal ketika sekitar tiga bulan yang lalu, adikku Suaidi mengeluh benjolan kecil di betisnya semakin membesar dan dirasakan sakit sekali. “aku susah sekali jalan” katanya, waktu itu ia masih di situbondo. Aku konsultasikan ke orang tuaku dan mereka mantap menyuruh suaidi pulang. Iapun dioperasi di Lombok. Aku tenang setelah itu. Adikku akan sembuh.

Dan..
Tiba-tiba, dua bulan setelah operasi, dari situbondo suaidi sms aku lagi, memberitahu aku kalo penyakit itu tumbuh lagi bahkan sekarang ini lebih besar. “Aku mau pulang aja, aku gak bias jalan, beriahu bapak ya” katanya sedih. Aku berusaha memberikannya ketenangan, aku mempertimbangkan keadaan orang tua di rumah yang lagi susah-susahnya karena uang. Mau tanam padi lagi. “Kalo bias kamu jangan pulang dulu, periksa aja dulu disana mungkin kamu bias atasi sendiri” kataku memintanya.

Tapi tak ayal..
Setelah beberapa hari, ia semakin mengeluh. Dia tidak sabar dan sangat khawatir. Tumor itu telah membesar dan bahkan sudah mulai nyut-nyutan. Bapak akhirnya menyuruhnya pulang. Karena pengalaman operasi dua bulan lalu yang kunilai gagal, sempat ku berfikir sekarang harus ia harus mendapatkan perawatan yang lebih maksimal. Aku usul sama bapak agar dia di operasi aja di Denpasar. Biarin dia turun di bali nanti kita yang kesana menemuinya. Namun bapak dan dia sendiri punya pertimbangan lain. Pulanglah dia.. Aku, bapak dan pak udeng menjelmputnya di Bus Safari Dharma Raya. Aku langsung menajak bapak periksa di Mataram. Kata dokter saat itu, “ini harus operasi besar dan membutuhkan biaya tak kurang dari 7 jutaan”. Mendengar hal ini, bapak jadi agak kagetDan aku tak bias berkomentar apa-apa. “Terserah bapak lah…” Kataku. “kita pertimbangkan dulu” Kata beliau. Dan mereka akhirnya pulang kerumah.

Setelah operasi, suaidi gak sembuh-sembuh. Satu minggu, dua minggu semakin parah saja. Tak hanya nyerinya tumor itu yang ia rasakan tapi juga nyeri di dada dan pinggang. Awalnya kami sekeluarga mengiranya karena terlalu banyak tidur, dan keluarga berupaya menggunakan obat tradisional sasak. Namun tak ayal semakin hari semakin parah saja. Sementara pertolongan apapun tak bias kami lakukan.

Pada hari yang sungguh menggetarkan karena suasana rumah yang [semua wajah terlihat susah]. Aku mengajak bapaka membawanya lagi ke dokter. Kali ini aku gak mau dia dibawa ke rumah sakit, lebih baik ke dokter spesialis. “minimal kita mendapatkan kejelasan tentan penyakitnya” kataku beralasan. Tapi keluargaku mengiranya tetap sama, sakit karena terlalu banyak tidur.

Akhirnya…Dr. Santiyo, DrB. Di Mataram menjadi pilihannya. Dr Santyo akhirnya menyuruh adikku di kamar saja di Rumah Sakit Islam biar sdia bias memeriksanya, karena bertugas disana. Lima hari kami di rumah sakit itu, sambil menungu hasil rongen, kami menunggunya disitu.

Pagi yang penuh dengan keterkejutan, Dr. Santiyo membaca hasil Rongen, bahwa suaidi dicurigainya kangker ganas, dilihat dari cirri-ciri rongen dada dan pinggangnya. “Anak ini harus dibawa ke bali” kata Dr. Santyo. Aku dan inaq langsung menangis. Bapakku yang sudah sakit semakin sakit. Betul-2 dalam susana yang sangat menyedihkan. Aku baru alami sekali ini dalam hidupku.

Kami berangkat ke bali dan akhirnya suaidi di vonis kangker ganas. Aku semakin sedih. Menangis dan terus menangis. Kok begini jadinya? Sampai tulisan ini terpsting aku masih menunggunya di sini, Rumah Sakit Sangalah Ruangan Angsoka I no 106. Entahlah, hanya do’a yang bias kuucapkan. Semoga adikku sembuh dan meraih cita-citanya denan bahagia. Amin.

Sanglah, 29 Januari 2009


Label:


Baca Lengkapnya!
 
posted by Jhellie Ahmad at Kamis, Januari 29, 2009 | 0 comments
09 Desember 2008
Scorpion King 2

Baru saja aku selesai nonton film scorpion king 2. bagi yang suka film-film pertualangan, Scorpion King bisa jadi tontonan mengasyikkan. Mulai slide-slide awal, kita akan dibuat penasaran dengan sebiuah narasi bahwa dahulu terdapat sebuah kerajaan bernama Akadia. Kaisarnya dijaga oleh puluhan pasukan pilihan bernama kesatuan Scorpion. Hidup mati Scorpion adalah untuk putri atau kaisar. Kesetiaanya mengawal raja dan mengatasi persoalan-persoalan kerajaan adalah janji setia seorang Scorpion. Bagi kawan-kawan yang suka pertualangan, film yang dibintangi Michael Covon (Mathayus) dan Karen David (Layla) ini direkomendasikan.

Diawali kisah seorang pembunuh bayaran terkenal bernama Asyur yang sangat setia kepada raja Hamurrabbi. Dia mengabdikan seluruh hidupnya bagi kerajaan dan tergabung dalam Scorpion. Ashur mempunyai anak bernama Mataiyus. Saat itu Mathayus berumur 15 tahun ketika Ashur melarangnya ikut masuk dalam lingkaran pembunuh bayaran itu. Asyur tak mau anaknya jadi seorang pembunuh sepertinya. Namun seperti pada umumnya anak-anak, Mathayus tak mendengar larangan ayahnya. Ia nekad ikut test menjadi calon scorpion.

Dilapangan kerajaan yang luas, Matayus diuji bertarung sesama kawannya. Dia mendapat lawan tanding Layla yang menyamar sebagai laki-laki demi ikut serta menjadi scorpion. Namun tak ayal, saat pertarungan berlangsung, penyamaran Layla di ketahui panglima perang Sargon. Layla diseret keluar lapangan dan membuat Mathayus marah dan memukul sang panglima dengan kayu.
Sargon marah besar dan nyaris membunuh Mathhayus, tapi Ashur datang menyelamatkan anaknya. Kebencian Sargon kepada Ashur telah membatu sejak lama. Sargon merasa tersaingi dengan ketenarannya Ashur di Akkadia. Peristiwa dilapangan itulah yang akan menyebabkan kejutan-kejutan pada slide-slide film berikutnya.

Malam hari setelah kejadian itu, Ashur terbunuh dengan sihir hitam Sargon. Sargon mengirim ratusan kalajengkin dan menyerang Ashur diranjangnya. Kematian Ashur itulah yang membulatkan tekad Mathayus untuk belajar menjadi petarung mengikuti takdirnya. Ia masuk pelatihan Scorpion dan belajar dengan keras. Akhirnya enam tahun kemudian Ia keluar sebagai Scorpion terbaik.


Saat dikukuhkan (semacam diwisuda githu), Mathayus telah menjadi seorang scorpion yang kekar dan kuat. Sementara itu Sargon, telah mengangkt dirinya menjadi raja setelah membunuh Hamurabbi. Mengetahui Mathayus putra Ashur, Sargon lantas menguji kesetiaan Mathayus.

Suatu hari dia memanggil Mathayus ke istana. Mathayus diminta memenggal kepala Noah adik kandungnyasneiri. Dari sinilah perlawanan dan aksi balas dendam dimulai. Ia mengamuk di depan Sargon dan membunuh semua pengawalnya. Pada saatnya ketika ia melempatkan tombak ke arah Sargon, kekuatan sihir hitam yang dimiliki Sargon menghentikannya.

Mengetahui dirinya tidak akan mungkin membunuh Sargon saat itu, Mathayus melarikan diri bersama adiknya. Namun Sargon tak habis akal, menyerang Mathayus dan adiknya dengan panah siluman. Adiknya Noah akhirnya terbunuh.
Pertualangan dimulai, bersama Layla Mathayus pergi ke mesir mencari tombak Osiris. Senjata Fir’aun yang sangat terkenal itu.

Hanya dengan senjata-senjata seperti itulah ia akan bisa membunuh Sargon yang mempunyai ilmu sihir. Ditengah perjalanan ia bertemua Ari (S Simon Quartermen) seorang Yunani yang gemar berpuisi. Ari mengetahui rahasia-rahasia raja dan kekuasaan-kekuasaan besar. Dia memberitahu Mathayus, untuk bisa membunuh hanya mungkin dilakukan dengan pedang Democles. Sebuah pedang yang pernah membunuh Raja Diktator Elam oleh seorang pria yang bersumpah mati seribu kali. Pedang Domocles adalah pedang yang dibuat dewa Zeus dari petir dan bisa memotong apa saja. Dan sekarang, oleh Zeus, pedang itu di hadiahkan kepada dewi Astarte sang penjaga neraka, sang dewi cinta dan perang.


Mereka mulai berpetualang, menyelusup masuk ke kerajaan mesir dan terperangkap dalam sebuah penjara tempat ditampungnya orang-orang dari berbagai negara yang akan dijadikan santapan makhluk aneh bernama Minotour. Sebuah makhluk setengah kerbau setengah manusia peliharaan Fir’aun.

Menurut keyakinan masyarakat Fir’aun, mesir akan selamat dari bencana jika terus memberi makan makhluk itu.
Pertarungan antara Mathayus dan Monotour tak dapat dihindarkan. Mathayus berhasil membunuh Monotour. dan bersama para penghuni penjara yang lain termasuk Wu seorang China yang juga terperangkap disana.

Saat mereka kebingungan bagaimana caranya keluar dari tembok enap itu. Ari berhasil membuka rahasianya. Ia membaca sebuah kunci pembuka yang ia temukan tertulis di lantai penjara. Dan... tembok-tembok itu terbuka dan yang tersisa hanya tempat mereka berpijak. Sebuah bangunan menjulang mirip tiang listrik yang besar. Mereka diatasnya. Inipun dilematis, jika meloncat asti mati karena bangunan itu mirip gedung seratus tingkat. Hal yang tidak mungkin mereka lakukan. Namun, Mathayus akhirnya mendapat bisikan ayahnya untuk melngkahkan kakinya menuruti apa kata hatinya. Mereka selamat.
Pertualangan tak kalah dahsyat berlangsun di neraka. Mereka menyusuri lorong-lorong neraka yang mengerikan.

Animasi-animasi mulai menarik ketika di kanan-kiri mereka tumbuh tubuhan aneh yang kemudian mencipta lorong-lorong yang membusuk. Tumbuh-tumbuhan hidup. Mereka akhirnya sampai di pedang Domocles tapi dewi Astarte tak mau meberikannya. Dengan beragam cara akhirnya......... pedang itu mereka curi.
Sekembalinya dari neraka, hanya dua kata di hati Mathayus, balas dendam. Ia menemui Sargon untuk bertarung secara jantan. Dengan pedang itu ia yakin bisa mengalahkan Sargon. Namun sesuatu terjadi, Sargon ternyata telah meningkatkan ilmu sihirnya dan sulit terkalahkan. Dia berubah menjadi seekor kalajengking raksasa dan menyerang mathayus dengan ganas.

Aksi terakhir, Mathayus akhirnya berhasil membunuh Sargon dengan susah payah. Kemakmuran Akkadia akhirnya tercapai. Kisah cintanya dengan Layla terkorbankan dengan misi Mathayus yang sudah terlalu mantap menjadi seorang pejuang scorpion. Di akhir film sebuah narasi menjanjikan, suatu saat Mathayus akan kembali menjadi raja di Akkadia. []

Label: ,


Baca Lengkapnya!
 
posted by Jhellie Ahmad at Selasa, Desember 09, 2008 | 4 comments
08 Desember 2008
Keranjingan Nge-Joomla

Disaat semangat ngeblog sedang turun-turunnya, Doni teman saya asal Kediri Lombok Barat itu memabawa ilmu baru, Joomla. Ya… sebuah program untuk membuat website atau blog pribadi yang hasilnya jauh lebih sempurna daripada Blogger, Wordpress. Atau blogsome. Dengan Joomla, website kita terutama tampilannya bisa terlihat lebih profesional, cantik dan elegan.


Kembali ke doni, teman saya yang ganteng itu memang agak pendiam, dari dulunya dia suka ngenet, tapi hanya sekadar untuk bisnis aja. Dia punya bisnis skripsi online sama kakanya. Kata teman-teman yang lain sih penghasilannya udah lumayan. Minatnya menulis di blog memang agak kurang, terbukti sampai sekarang, satu blog ribadinyapun tak bisa kita jumpai. Beberapa bulan lalu dia baru tau kalo saya negelola blog www.opinikampus.wordpress.com dan www.jarikmataram.wordpress.com.

Karena dia liat dua blog itu sangat interaktif dan opengunjungnya banyak. Diam-diam dia mencari tau cara bikin blog yang lebih bagus, tidak pake hostingan gratis seperti blogger dan wordpress.

Baru dua minggu yang lalu dia jujur sama saya kalo dia sudah bisa bikin Joomla. Dia tunjukka hasilkaryanya www.ntbku.co.cc yang belum online. “Wah ruaaarrrrr biasa” komentarku. Diam-diam (dan memang orang pendiam) ternyata Doni belajar otodidak membuat blog dengan si cantik Joomla.

Sekarang, sudah dua minggu, pekerjaanku nyaris absen gara-gara keranjingan ngejoomla. Tiap hari, nyaris tiap hari. Teman-teman blogger lain seperti Cus, Turmudzi, Jen, Aswadi, Sirtu juga demikian. Di sekret Ro’yuna mereka ngeblog sama doni, offline aja. Bahkan Cus, katanya sudah bikin 5 blog sekalian. (Hehe Cus…mau diisi apaan tu blog banyak banget?).[]


Label:


Baca Lengkapnya!
 
posted by Jhellie Ahmad at Senin, Desember 08, 2008 | 2 comments
Back To Blog

Beberapa bulan terakhir, saya jarang sekali ngeblog. Blog ini nyaris gak pernah ngeposting tulisan baru lagi.
Semangat menulisku menurun 90 derajat. Gak tau kenapa, untuk sementara mungkin jawabannya, karena terlalu banyak yang kufikirkan dan kukerjakan.

Beberapa bulan terakhir kegiatannya Jarik padat banget memang, mulai dari diskusi dua kali seminggu, kelompok baru yang kami bikin “KPK” juga punya agenda bedah film tiap minggu, yang tak kalah pusingnya difikirin adalah soal kuliah yang gak selesai-selesai.


Hmmm….sekarang semangat nge-blog idup lagi gara2 virus joomla dari doni. Sambil ngurusin yang lain, insya allah joomlaku segera online lagi. []

Baca Lengkapnya!
 
posted by Jhellie Ahmad at Senin, Desember 08, 2008 | 0 comments
11 Oktober 2008
Semoga Bukan Politik Tebar Pesona!

Jurus-jurus populisme, seperti berpenampilan elegan, cool, saleh dan berkomunikasi santun ternyata jitu menghantarkan bajang menjadi orang nomor satu di daerah ini. Realitas ini mengingatkan kita pada populisme yang sama ketika berhasil menghantarkan SBY menjadi presiden pada pemilu 2004.


Tuan Guru Bajang (TGB) Zainul Majedi selanjutnya saya sebut Gubernur Bajang, telah dipilih rakyat NTB sebagai pemimpinnya pada periode 2008-2014. Ini berarti, pro-kontra tentang harapan dan kekahawatiran yang sempat mencuat ketika awal-awal pencalonannya pupus sudah. Sekarang, tinggal melihat mana yang lebih teruji keabsahannya, akan terbuktikah kekhawatiran-kekhawatiran itu atau sebaliknya, akan berhasil terpenuhikah harapan-harapan itu?.

Kekhawatiran sedikit tercermin dalam opini saya berjudul “Jika Tuan Guru Jadi Gubernur”. Di opini yang saya posting di blog www.opinikampus.wordpress.com itu saya menulis, Gubernur Bajang nantinya akan cukup berat menghadapi lawan-lawan politiknya baik di legislatif maupun di internal pemprov sendiri. Beliau yang notabene selama karirnya akrab dengan tradisi “cium tangan” dan seruan moral akan berhadapan dengan realitas politik yang serba culas dan kepentingan berubah menjadi tuhan. Sedikit berat, manakala misalnya, negosiasi dengan rival-rival politik yang berstandar materialis gagal dilakukan. Disitu adalah niscaya, seruan moral tak ada gunanya, yang berguna justru kemampuan manajerial, berpolitik dengan aman agar kursi sang Gubernur Bajang kita yang masih belia itu tidak terancam.

Kekhawatiran lain, sosok seorang tuan guru atau kiai (jawa) yang masuk politik lazimnya akan kaku berhadapan dengan struktur kekuasaan baru yang ia pimpin. Walau Gubernur Bajang pernah menjadi pejabat di legislatif pusat, jabatan Gubernur yang beliau sandang hari ini tidaklah sama. Menjadi anggota DPR RI kata orang, anak Sekolah Dasar-pun bisa! karena kerjanya simple saja “Duduk, Diam dan Duit”. Begitu juga tak bisa menjadi jaminan, kesuksesan beliau memimpin pondok pesantren NW di Lombok Timur bukan menjadi ukuran bakal suksesnya beliau memimpin NTB yang tentu saja memiliki tantangan berbeda.

Diluar itu, beberapa harapanpun masih diserukan. Dengan terpilihannya Gubernur Bajang, moralitas utamanya kejujuran yang dimiliki para politikus di NTB sedikit bisa terdongkrak naik dengan kapasitas keagamaan yang beliau punya. Korupsi diharapkan sesegera mungkin bisa diberantas tentunya dengan semangat Amar Ma’ruf Nahi Mungkar. Kualitas kesejahteraan, kesehatan dan pendidikan yang rendah juga sesegera mingkin bisa diatasi dengan merealisasikan APBD yang transparan, jujur, efisien dan tepat sasaran.

Harapan juga, dengan modal kearifan, beliau bisa mengatasi persoalan keummatan, khususnya terkait suramnya masa depan keberagaman kita di NTB. Sentimen keberagaman yang kian mengeras beberapa tahun terakhir seperti kekerasan terhadap penganut Salafi, Ahmadiyah, penganut Syi’ah serta menegangnya hubungan Hindu-Islam akibat perusakan dua pure di Senaru dan Narmada beberapa waktu lalu dapat sesegera mungkin diakhiri dengan damai.

Terangnya, Gubernur Bajang diminta untuk memperlakukan rakyat tanpa melihat latarbelakang etnis, golongan, agama atau keyakinannya. Di hadapannya, hendaknya tak ada pilah-pilih, apakah rakyat ini warga NW, NU, Muhammadiyah ataukah Ahmadiyah. Apakah warga itu, Kristen, Hindu, Budha, islam atau bahkan penganut keyakinan diluar keyakianan mainstream. Tak istilah santri, biarawan, pedanda atau apalah. Yang ada hanya rakyat, rakyat yang mempunyai hak dan kewajiban yang sama, yang kebetulan saja dipimpin seorang Gubernur yang berlatar belakang Tuan Guru, beragama Islam dan berafiliasi ideologis dengan NW. Selebihnya tak ada lain. Maka Gubernur Bajang harus berseru dan bertindak “keadilan untuk semua!”.


Hindari “Tebar Pesona” Gaya SBY


Terpilihnya presiden SBY pada pemilu 2004 silam disinyalir banyak pengamat sebagai kemenangan politik pencitraan bukan kemenangan yang didasarkan pada bagus dan canggihnya visi-misi politik. Kelihaian SBY “menebar pesona” saat kampanye seperti penampilan yang selalu rapi dan elegan, tata cara komunikasi yang cool, santun dan bersahaja ditambah face dan body-nya yang gagah ternyata berhasil merebut hati rakyat untuk memilihnya.

Faktanya, setelah dua tahun, kritik terhadap model kepemimpinannya membludak bak air bah. Megawati misalnya pernah mengatakan SBY berpolitik seperti tarian poco-poco, maju mundur dan tak bisa mengambil sikap. Beberapa kasus yang dicontohkan mega, antara lain tak terselesainya kasus mantan presiden Suharto, korupsi BLBI, terbunuhnya aktifis HAM Munir, Kasus Lapindo serta terakhir kasus Ahmadiyah.

Menghadapi kasus-kasus itu, SBY bahkan kerap tak tegas dan bersikap komparador dalam bersikap. Ini jelas sangat kontras dengan penampilannya yang gagah perkasa, lebih lagi berpendidikan militer. SBY bahkan divonis penakut dalam mengambil resiko. Tangkah polah politiknya yang kerap menjadi olok-olok tercermin dari sikapnya yang ternyata lebih mencintai terjaganya tingkat popularitasnya daripada kerja riil. Bahasa rakyatnya, SBY lebih memilih program BLT dan kenaikan BBM daripada berusaha menangkap koruptor BLBI atau menyelesaikan penderitaan masyarakat Sidoarjo akibat lumpur Lapindo.

Gubernur Bajang nampaknya juga demikian. Harus diakui, kemenangannya baru lalu, salah satunya, besar di-berkah-i oleh popularitasnya sebagai tokoh agama dan penceramah ulung di NTB. Ditopang dengan penampilannya yang super elegan, saleh serta cara komunikasi yang santun bersahaja akhirnya bajang berhasil menarik simpati rakyat. Proses kemenangan Gubernur Bajang ini mirip sekali dengan kemenangan SBY pada pemilu 2004. Namun, akankah, setelah jadi sekarang, Gubernur kita ini juga akan meniru model kepemimpinan SBY yang banyak mengecewakan itu? Mempertahankan popularitas dan menisbikan kerja-kerja kongkrit memperbaiki daerah jelas adalah pilihan konyol. Semoga ini tak terjadi.

Yang jelas, dalam suasana politik NTB sekarang ini (menurut para pengamat selalu labil), kepemimpinan Bajang bakal mendapat tantangan-tantangan serius. Selain banyaknya Pekerjaan Rumah (PR) Mantan Gubernur Serinate yang menuntut segera diselesaikan juga ada soal korupsi, kemiskinan dan pendidikan. Dan tentu saja yang paling urgen adalah, Bajang harus segera merealisasikan janji-janji saat kampanyenya seperti reformasi birokrasi, pengentasan kemiskinan, perbaikan kesehatan, pendidikan dan seterusnya. Semua ini jika tak segera dilakukan, maka luberan tuntutan dari rakyat yang menggema dan meledak. Bahkan beberapa media menulis, Janji Bajang terhadap pendidikan gratis bahkan sudah diam-diam ditagih rakyat. Maka, bajang perlu hati-hati dalam 100 hari kepemimpinannya, rakyat akan terus mengawasi terobosan-terobosan penting apa yang dilakukan.

Tantangan bajang pula, bakal datang dari partai-partai politik khususnya partai-partai pendukung. Sudah pasti, bagi-bagi kekuasaan jika tak di akomodir dengan bijak akan berakibat pada bertambahnya barisan oposan. Sementara di parlemen, sistem multipartai yang masih berlaku hingga hari ini, meniscayakan tak adanya satu parpol mayorias disana. Ini artinya, bajang harus mampu melakukan negosiasi politik dari semua penjuru kepentingan yang tarik menarik. Untuk yang satu ini, Gubernur bajang nampaknya butuh kerja keras dan belajar yang rajin bagaimana menjadi politikus yang andal.

Gelar politisi yang disandang Beliau saat ini jelas diharapkan, agar sang Gubernur Bajang kita ini tak hanya tangkas membaca kitab kuning tapi juga tangkas mengakomodir kepentingan-kepentingan politik berbagai kelompok. Kemampuan yang dituntut dari Gubernur Bajang saat ini sesungguhnya tak sesederhana memimpin sebuah pondok pesantren, tapi ia seaat ini tengah mengepalai jajaran kabinet yang berasal dari beragam latarbelakang. Memimpin kepala dinas, para bupati yang semakin otonom dan tentu saja tekanan politik-partai politik. Intinya, sebagai orang nomor satu di NTB, kita menunggu kinerja-kinerja bajang dan kemampuanya memimpin dan menggerakkan jajarannya demi tercapainya tujuan-tujuan daerah yang lebih baik. Wallahu A’lam Bissowab.[

Label: , , , ,


Baca Lengkapnya!
 
posted by Jhellie Ahmad at Sabtu, Oktober 11, 2008 | 0 comments
20 Mei 2008
Menanti keajaiban di Pilkada NTB

Popularitas hanyalah satu dari sekian indikator penentu kemenangan dalam Pilkada. Beberapa indikator lain, mesin politik yang kuat, dana yang ‘gede’ dan visi yang ok, tidak bisa dinafikan. Pengalaman pilkada yang sudah-sudah di beberapa daerah menunjukkan banyak keajaiban politik terjadi. Seorang calon yang diawal-awal pilkada tak punya daya tawar, popularitasnya nihil, namun keluar sebagai juara diakhir penghitungan suara. Mungkinkah di NTB terjadi demikian?


Kerusuhan yang terjadi di depan kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU)–NTB Hari Sabtu lalu (16/5) antara para pendukung calon independen (CI) dan aparat keamanan, nampaknya tak akan banyak mempengaruhi peta politik para kontestan yang sudah dipastikan lolos pada Pemilihan Gubernur Juli mendatang.

Walau nanti, polemik di KPU berakhir dengan keputusan mengikutsertakan CI dalam pilkada misalnya, maka tetap saja perebutan suara bakal signifikan hanya pada empat calon yang sudah jelas-jelas lolos hingga hari ini, yakni pasangan Srinate-Husni Jibril (Serius), TG. Bajang-Badrul Munir (TGB), Zaini Aroni –Nurdin Ranggabarani (Zanur) dan Nanang-Jabir (Naja).

Saya tak hendak mencoba memupuskan harapan para pendukung CI, tapi memang realitasnya demikian. Buat saya, polemik CI ibarat memasukkan paku di tembok beton. Memang bisa, namun butuh perjuangan berat.

Popularitas Di Arus Bawah

Pada pertengahan Januari lalu, saya berkesempatan menjadi Surviour (Relawan Survei) Lingkar Survei Indonesia (LSI) di dua kecamatan di Lombok Tengah. Saya menyurvei 20 orang dengan kalkulasi masing-masing kecamatan 10 orang yang diambil secara acak di dua desa.

Pada item pertanyaan “Apakah Ibu/Bapak pernah mendengar atau membaca nama –nama berikut? (pertanyaan diikuti 15 nama tokoh politik NTB), ternyata muncul dua nama yang paling dikenal, TGH. Zainul Majedi (Tuan Guru Bajang) dan Serinate.

Di item yang lebih mengerucut, “Seandainya pemilihan langsung Gubernur NTB dilaksanakan hari ini, siapa yang akan bapak/Ibu pilih diantara dua nama ini? 1. Drs. L. Serinate 2. TGH. Zainul Majedi?, masyarakat rata-rata diam tak punya jawaban.

Dari hasil pantauan lapangan ini –walau skalanyanya kecil- tampak popularitas bawah TGB dan Srinate di arus menempati rangking tertinggi. Sebagian masyarakat mengaku dengan dengan nama Tuan Guru Bajang karena ceramah-ceramahnya melalui radio dan cerita orang-orang. Sementara Srinate dikenal masyarakat karena posisi incumbentnya sebagai Gubernur NTB saat ini.

Jika melihat hasil ‘kecil’ survei ini nampaknya popularitas pasangan Serius dan TGB di arus bawah sama-sama menggila. Namun, kesempatan menang antara keduanya masih fivety–fivety dan terbuka lebar. Apalagi jika dilihat dari sikap “diam” masyarakat ketika ditanya seandainya memilih hari ini, yang menunjukkan sepertinya terdapat pertimbangan-pertimbangan lain di hati kecil yang samasekali tak bisa di survei.

Bagaimana dengan dua pasangan lainnya, Naja dan Zanur? Popularitas dua pasangan ini tampak sebaliknya bahkan dapat dibilang mereka gigit jari. Butuh usaha keras untuk mendongkraknya lewat Advertising Politics yang lebih kenceng lagi. Hal ini wajar, karena secara sosial, nama keduanya nyaris tak membumi di masyarakat NTB. Nanang Samoedra jarang bersentuhan dengan masyarakat walawu ia menempati jabatan strategis sekretaris daerah-nya, begitu juga dengan Zaini Aroni yang terlihat elitis dengan jabatan kepala dinasnya di Dikpora.

Keajaiban Politik

Walau demikian, tak ada takdir dalam politik. Semuanya jarang bisa di tebak. Sementara popularitas hanyalah satu dari sekian indikator penentu kemenangan. Beberapa indikator lain, mesin politik yang kuat, dana yang ‘gede’ dan visi yang ok, tidak bisa dinafikan. Pengalaman pilkada yang sudah-sudah di beberapa daerah menunjukkan banyak keajaiban politik terjadi. Seorang calon yang diawal-awal pilkada tak punya daya tawar, popularitasnya nihil, namun keluar sebagai juara diakhir penghitungan suara.

Pengalaman terbaru datang dari pilkada Bonjonegoro. Suyoto, seorang Muhammadiyah yang tidak populis. Diawal-awal masa pencalonan, Suyoto bahkan dipandang sebelah mata oleh berbagai kalangan. Bahkan, ketika Suyoto mengajak calon lain bergabung nyaris tidak ada yang mau karena menganggap Suyoto tidak mewakili segmen politik yang signifikan di kabupaten yang mayoritas Nahdlatul Ulama (NU) itu. Namun luar biasa, Suyoto berhasil keluar sebagai pemenang dengan titel “Orang Muhammadiyah yang menang di kampungnya orang NU”

Di Pilkada NTB bisa jadi demikian. Walau dua pasangan Serius dan TGB secara angka menang telak, pasangan lain Zanur dan Naja bisa saja menyalip di persimpangan jalan. Keempat-empat pasangan masih besar peluang untuk menang.

Tinggal sekarang, sejauhmana masing-masing tim sukses bekerja keras dan bekerja cerdas. Kerja keras dipastikan akan menghasilkan hasil yang maksimal sementara kerja cerdas tentu saja akan menghasilkan efektifitas dan tak banyak yang sia-sia.

Dus, Dalam pilkada NTB, keajaiban-keajaiban politik masih ditunggu. Masyarakat NTB berharap pilkada kali ini bisa menghasilkan pemimpin yang betul-betul pemimpin. Pemimpin yang bisa mengayomi, berlaku adil, menjaga keagamanan dan kenyamanan di tengah masyarakat. Menghasilkan pemimpin yang demikian tidak bisa hanya dengan modal popularitas, uang dan mesin politik yang canggih. Tapi dengan visi dan pengalaman yang tangguh. Kita tunggu saja!. []


Label: ,


Baca Lengkapnya!
 
posted by Jhellie Ahmad at Selasa, Mei 20, 2008 | 0 comments